Catatan Perjalanan KUNAKENIS: Tentang Cinta, Air Mata, dan Fondasi yang Bangkit

Bab 1: Sebuah Nama, Sebuah Langkah Awal (2018)
Pertengahan tahun 2018 menjadi titik mula di mana jemari saya pertama kali bersentuhan dengan tepung, mentega, dan aroma karamel yang pekat. Dunia kuliner saat itu adalah hamparan ketidaktahuan bagi saya. Saya melangkah tanpa peta, tanpa latar belakang pendidikan tata boga, dan tanpa pengalaman manajerial sama sekali. Namun, ada satu hal yang saya miliki: keyakinan yang keras kepala.
Perjalanan ini kami awali di bawah kibaran nama Sarang Semut Cake and Cookies. Sebuah identitas sederhana yang lahir dari rahim produk andalan pertama kami: Bolu Sarang Semut, atau yang di pasaran lebih akrab dikenal sebagai Bolu Karamel. Sebuah kue klasik berwarna cokelat gelap, penuh dengan rongga-rongga presisi yang menyerupai rumah semut, dan menawarkan perpaduan rasa manis-pahit yang elegan di lidah.
Namun, romansa awal itu segera membentur dinding realitas hukum. Saat melangkah untuk melegalkan usaha, nama tersebut ditolak oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) karena dianggap terlalu umum dan menggunakan nama produk massal. Nama tersebut tidak dapat didaftarkan sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Bagi sebagian orang, pembatalan nama di awal usaha mungkin menjadi alasan untuk menyurutkan langkah. Namun, bagi saya, tantangan ini justru menjadi alarm dini yang membangunkan kesadaran saya. Jika ingin bertahan lama, bisnis ini tidak boleh dikelola dengan mentalitas amatiran.
“Tantangan legalitas bukanlah jalan buntu, melainkan sebuah undangan untuk melangkah ke level yang lebih profesional.”
Alih-alih mundur, saya membulatkan tekad untuk melakukan rebranding total. Melalui proses kontemplasi yang panjang, di awal tahun 2023, kami resmi mengibarkan nama baru: KUNAKENIS. Sebuah akronim jujur yang bermakna Kue Enak dan Manis. Sebuah nama yang tidak hanya sekadar label di atas kemasan, melainkan sebuah janji kualitas yang kami pertanggungjawabkan kepada setiap pelanggan hingga hari ini.
Bab 2: Keajaiban dari Dapur Mertua dan Modal Keberanian
Bagi saya yang awalnya asing dengan oven dan timbangan digital, Bolu Sarang Semut terasa seperti sebuah keajaiban yang ramah. Proses pembuatannya relatif mudah dipahami, tidak membutuhkan teknik baking tingkat tinggi yang rumit, dan seluruh peralatannya pun mudah dijumpai di pasar tradisional.
Inspirasi usaha ini datang dari sebuah momen komunal yang bersahaja. Suatu sore, saya memperhatikan Ibu Mertua sibuk di dapur, menyiapkan hidangan untuk acara yasinan dan tahlilan memperingati 1000 hari berpulangnya Simbah Putri. Beliau membuat Bolu Sarang Semut. Sembari membantu mengaduk adonan, saya mengamati betapa efisiennya proses tersebut. Di situlah percikan ide itu muncul. Jika Ibu Mertua bisa menyajikannya dengan begitu penuh cinta dan kemudahan, mengapa saya tidak mencoba mengubahnya menjadi sebuah usaha mandiri yang bisa menopang ekonomi keluarga?
Berbekal selembar kertas berisi resep warisan Ibu Mertua, langkah pertama nyata segera diambil. Dari mana modalnya? Saya memutuskan mencairkan dana amanah dari BPJS Ketenagakerjaan hasil dari pekerjaan saya sebelumnya. Uang tersebut tidak saya gunakan untuk keperluan konsumtif, melainkan saya ecer dengan sangat hati-hati untuk mencicil infrastruktur produksi: beberapa buah loyang tulban, spatula silikon, whisk manual, hingga bahan baku gelombang pertama seperti gula pasir dan tepung terigu berkualitas.
Untuk urusan krusial seperti memanggang, modal saya belum mencukupi. Dengan penuh rasa segan namun didorong oleh restu keluarga, saya meminjam oven tangkring kecil milik Ibu Mertua. Oven usang yang hanya memiliki kapasitas satu loyang sekali panggang, yang harus diletakkan dengan presisi di atas kompor minyak atau kompor gas portable. Di atas api kompor itulah, mimpi KUNAKENIS pertama kali dipanaskan.
Bab 3: Gerilya Visual di Komunitas Foto
Memiliki produk yang enak adalah satu hal, tetapi membuat orang tahu bahwa produk itu ada adalah perjuangan yang berbeda. Sebagai langkah promosi perdana, saya memutar otak. Saya memutuskan memproduksi 10 boks Bolu Sarang Semut secara cuma-cuma. Targetnya adalah teman-teman di komunitas Kompakers Jogja—sebuah wadah berkumpulnya para perempuan kreatif yang memiliki hasrat mendalam di dunia fotografi, khususnya food photography.
Keputusan membagikan sampel ke komunitas ini terbukti menjadi langkah pemasaran paling taktis yang pernah saya ambil di awal usaha. Dari mereka, saya tidak hanya mendapatkan umpan balik (feedback) yang jujur, tajam, dan membangun untuk menyempurnakan tekstur serta tingkat kemanisan kue agar tidak memicu rasa enek (aftertaste yang getir). Lebih dari itu, saya mendapatkan bonus yang tak ternilai harganya bagi seorang pemula: aset foto-foto produk yang sangat estetik, berkarakter, dengan pencahayaan yang terang, bersih, dan berlatar belakang minimalis.
Di era digital, visual adalah mata uang utama. Berbekal portofolio foto premium hasil jepretan para fotografer Kompakers Jogja tersebut, saya mulai bergerilya. Saya menyusun pesan promosi yang personal di WhatsApp dan mengunggahnya secara berkala di Instagram. Saya tidak hanya menjual kue; saya menjual kehangatan sebuah resep warisan keluarga yang dikemas secara modern.
Bab 4: Ujian 20 Jam dan Batas Fisik Manusia
Strategi visual tersebut meledak di lingkaran pertemanan. Pesanan mulai mengetuk pintu WhatsApp saya secara bertahap. Di awal, volumenya masih sangat ramah bagi seorang ibu rumah tangga: berkisar antara satu hingga lima boks per hari. Pada skala kecil ini, saya masih bisa menikmati peran sebagai solo-preneur—menimbang, mengaduk, memanggang, mengemas, hingga mencuci peralatan dapur secara mandiri tanpa kehilangan ritme.
Namun, kenyamanan itu diuji ketika seorang teman dekat memercayakan sebuah pesanan besar: 20 boks Bolu Sarang Semut untuk acara tasyakuran kelahiran buah hatinya. Angka 20 boks mungkin terdengar kecil bagi sebuah pabrik, tetapi bagi dapur rumahan dengan satu oven tangkring pinjaman, angka itu menyerupai sebuah gunung yang harus didaki. Setelah terdiam beberapa saat memandangi langit-langit dapur, saya menarik napas dalam-dalam. Saya berkata pada diri sendiri: “Ambil. Jika kamu menolak ini, kamu tidak akan pernah tahu seberapa besar kapasitas energimu.”
Tantangan sesungguhnya bukan pada resep, melainkan pada keterbatasan infrastruktur. Proses pemanggangan satu loyang Bolu Sarang Semut membutuhkan waktu yang sangat ketat: tepat 60 menit (1 jam) agar karamelnya matang sempurna dan rongganya terbentuk dengan indah. Mengingat kapasitas oven tangkring saya hanya mampu menampung satu loyang sekali jalan, kalkulasi matematikanya menjadi sangat kejam: untuk menyelesaikan 20 boks pesanan, dibutuhkan total waktu 20 jam murni hanya untuk proses pemanggangan! Angka ini belum termasuk proses pembuatan cairan karamel, pembuatan adonan dan pengemasan.
Konsekuensinya adalah sebuah pengorbanan fisik yang ekstrem. Saya harus melewatkan malam tanpa tidur, berjaga di depan kompor dengan alarm yang berdering setiap satu jam sekali. Tubuh saya dipaksa beradaptasi dengan uap panas dapur sepanjang malam. Ketika fajar menyingsing, seluruh kue selesai dalam kondisi segar dan wangi. Namun, harga yang harus dibayar sangat mahal. Begitu pesanan berpindah tangan, seluruh pertahanan fisik saya runtuh. Kondisi kesehatan saya drop total dan saya terpaksa terbaring sakit selama beberapa hari akibat kelelahan yang luar biasa.
Meski demikian, di atas tempat tidur saat memulihkan fisik, sebuah senyuman tidak bisa lepas dari wajah saya. Pelanggan mengirimkan pesan singkat yang penuh dengan pujian: kue kami menjadi bintang di acara tasyakuran tersebut. Rasa lelah itu seketika sirna, berganti menjadi kepuasan spiritual yang mendalam. Saya telah lulus ujian pertama dalam hal komitmen pelayanan.
Bab 5: Investasi Berani di Akhir Tahun
Seiring dengan bergulirnya waktu, volume pesanan harian terus merangkak naik. Namun, pola produksi lama yang menguras fisik secara barbar itu tidak lagi berkelanjutan. Saya sadar, jika saya terus mempertahankan metode kerja seperti ini, saya akan menghancurkan diri saya sendiri sebelum bisnis ini sempat membesar. Saya sering kali jatuh sakit, dan itu mulai mengganggu stabilitas domestik keluarga.
Titik balik operasional itu akhirnya tiba pada bulan Desember 2018. Keluarga suami mempercayakan pesanan sebanyak 40 boks Bolu Sarang Semut sekaligus untuk acara hajatan pernikahan. Menghadapi momentum ini, saya tahu meminjam oven Mertua bukan lagi sebuah solusi. Saya harus mengambil langkah berani yang melibatkan risiko finansial: menginvestasikan seluruh keuntungan yang terkumpul ditambah sedikit tabungan untuk membeli oven gas berkapasitas 12 loyang dalam sekali panggang.
Keputusan membeli oven gas berukuran besar ini terbukti menjadi langkah paling krusial dalam sejarah operasional KUNAKENIS. Efisiensinya melonjak drastis. Waktu pemanggangan yang semula membutuhkan waktu berhari-hari kini bisa dipangkas hingga sepertiganya. Tenaga fisik saya tidak lagi terkuras habis di depan kompor, dan yang paling penting secara bisnis, kami berhasil menekan biaya operasional produksi (terutama penggunaan gas harian) secara signifikan.
Dengan kapasitas produksi baru ini, KUNAKENIS resmi membuka gerbang untuk pasar yang lebih masif. Kami mulai berani mengajukan diri dan menerima pesanan dalam skala besar untuk keperluan hajatan pernikahan, tasyakuran khitanan, kenduri tradisional, hingga hantaran (ulih-ulih) untuk berbagai acara korporat. Guna mengimbangi kesiapan dapur yang sudah modern ini, saya mulai meningkatkan tensi pemasaran digital. Saya mempelajari algoritma Instagram, menyajikan konten estetis secara berkala, dan mengadakan program promosi interaktif guna meningkatkan keterikatan pengikut (followers engagement).
Strategi ini membuahkan hasil yang manis. Pasar kami meluas melampaui batas lingkaran pertemanan di WhatsApp. Pelanggan-pelanggan baru yang tidak pernah saya kenal sebelumnya, yang tinggal di luar kecamatan, mulai berdatangan karena terpikat oleh ulasan digital dan visual produk KUNAKENIS. Pada fase ini, saya menyadari kekuatan delegasi. Saya mulai merekrut karyawan lepas (freelance) sebagai sistem pendukung (support system) yang siap digerakkan kapan pun pesanan besar datang.
Bab 6: Diversifikasi Rasa: Prol Tape dan Nafas Ramadan (2019)
Memasuki tahun 2019, KUNAKENIS tidak ingin terjebak dalam zona nyaman sebagai produsen tunggal bolu karamel. Sebuah brand kuliner yang sehat harus bergerak dinamis dan adaptif terhadap selera pasar. Kami memutuskan melakukan inovasi produk dengan meluncurkan menu baru yang tetap membawa napas autentik, klasik, dan hangat: Prol Tape.
Dalam proses pengembangannya, saya tetap mempertahankan prinsip dasar KUNAKENIS: kepraktisan dalam proses pembuatan tanpa mengorbankan kualitas akhir. Kami menerapkan metode pengadukan yang efisien hingga seluruh adonan tercampur rata secara homogen sebelum melangkah ke proses pemanggangan. Namun, di balik kesederhanaan prosesnya, respons pasar yang kami terima sungguh di luar ekspektasi. Prol Tape KUNAKENIS langsung mendapatkan tempat di hati para pencinta kuliner Jogja.
Rahasia keberhasilan Prol Tape ini sebenarnya terletak pada satu hal: komitmen mutlak terhadap kualitas bahan baku. Kami menolak menggunakan bahan sisa atau kualitas nomor dua. Untuk setiap satu loyang Prol Tape yang keluar dari oven kami, terkandung 500 gram tape singkong mentega pilihan. Tape ini dikurasi secara ketat, harus memiliki tingkat kematangan yang prima, bertekstur empuk, dan memiliki rasa manis alami yang pas tanpa ada semburat rasa asam yang berlebihan. Komposisi premium inilah yang menghadirkan pengalaman rasa yang autentik—layaknya menikmati kelembutan cake modern namun dengan karakter rasa tape singkong yang tebal, lembut, dan sama sekali tidak meninggalkan rasa getir atau enek di tenggorokan.
Melihat bisnis yang dirintis dari dapur pinjaman ini mulai menunjukkan grafik pertumbuhan omzet yang positif tentu menghadirkan kebahagiaan tersendiri bagi saya. Namun, dunia bisnis selalu memiliki hukum alamnya sendiri: dinamika musiman. Ujian itu datang saat kami memasuki bulan Ramadhan. Di Indonesia, bulan suci ini sering kali mengubah pola konsumsi masyarakat secara drastis. Permintaan untuk kebutuhan acara besar seperti pernikahan atau kenduri otomatis menurun drastis karena aktivitas sosial di siang hari praktis berhenti.
Menghadapi penurunan permintaan musiman ini, KUNAKENIS harus bergerak cepat. Kami tidak boleh pasif menunggu lebaran tiba. Kami meluncurkan strategi taktis dengan menyediakan paket Snack Box Ramadhan yang dirancang khusus untuk menangkap peluang pasar berbuka puasa (ta’jil). Menu yang kami tawarkan sangat fleksibel, memadukan potongan Bolu Sarang Semut atau Prol Tape dengan aneka puding segar serta variasi camilan gurih.
Menariknya, camilan gurih ini tidak saya produksi sendiri. Saya memilih melakukan kurasi langsung dari para pelaku UMKM rumahan di sekitar lingkungan rumah saya. Langkah kolaboratif ini terbukti menjadi keputusan yang berkah. Kami tidak hanya berhasil memperkaya variasi menu snack box tanpa menambah beban produksi dapur sendiri, tetapi juga turut memberdayakan ekosistem usaha lokal di sekitar kami. Kami tumbuh bersama di bulan yang suci.
Tidak berhenti di situ, momentum Ramadhan juga menjadi panggung bagi kami untuk mengeksplorasi lini produk Kue Kering (Cookies). KUNAKENIS mulai memproduksi varian klasik legendaris yang wajib ada di meja tamu saat Idul fitri: Nastar, Kastengel premium dengan keju melimpah, Palm Cheese Cookies yang renyah, Nutella Cookies yang modern, Garlic Cheese, Putri Salju yang lembut, hingga Kue Kacang tradisional.
Di antara seluruh pasukan kue kering tersebut, Nastar berhasil tampil sebagai primadona tunggal yang paling diburu oleh pelanggan. Kekuatan utama nastar kami terletak pada isiannya: selai nanas homemade yang diproduksi secara mandiri di dapur KUNAKENIS. Kami menggunakan 100% nanas asli pilihan dan gula pasir alami, tanpa tambahan zat pengental, pewarna sintetik, ataupun bahan pengawet kimia. Melalui proses pengolahan tradisional yang sabar di atas api kecil, selai ini mampu bertahan hingga 6 bulan di suhu ruang dalam wadah tertutup rapat tanpa mengalami perubahan rasa.
Keunggulan kualitas ini memicu lonjakan permintaan (booming) yang masif menjelang lebaran. Dapur kami kembali bergolak. Dedikasi waktu produksi kembali dipaksa berjalan hingga larut malam demi memastikan seluruh pesanan kue kering masuk ke dalam setoples dengan rapi sebelum hari raya. Di tengah situasi yang padat tersebut, reputasi KUNAKENIS sebagai produsen terpercaya mulai didengar oleh para pedagang besar. Kami mulai dipercaya untuk menangani segmen pesanan besar (bulk order) berbasis penjualan kiloan tanpa label (unbranded/white label). Melalui kesepakatan profesional ini, kami berkomitmen menjaga ritme produksi harian dengan standar mutu yang konsisten demi menyuplai puluhan kilogram nastar dan kastengel berkualitas tinggi kepada para mitra penyalur.
Pasca-Ramadhan usai, momentum pertumbuhan ini tidak boleh dibiarkan menguap begitu saja. Guna menjangkau pangsa pasar yang lebih luas dan inklusif, KUNAKENIS meluncurkan varian Bolu Tape Ekonomis. Produk ini diposisikan sebagai alternatif dengan harga yang lebih ramah di kantong di bawah lini Prol Tape—yakni pada kisaran harga Rp30.000 saja saat itu. Langkah taktis ini berhasil menjadi solusi jitu yang sangat diminati masyarakat sebagai hidangan versi ekonomis namun tetap pantas untuk kebutuhan hajatan kampung dan acara keluarga santai.
Tidak hanya berhenti pada varian original, kami juga melakukan pengembangan produk (product line expansion) dengan menghadirkan beragam pilihan topping premium yang memberikan tekstur kontras: mulai dari Bolu Tape Almond yang renyah, Bolu Tape Kismis yang segar, hingga Bolu Tape Keju. Di antara seluruh variasi tersebut, Bolu Tape Keju sukses tampil sebagai produk yang paling digemari oleh pelanggan, berkat perpaduan rasa manis-gurih keju yang pas, stabil, dan konsisten di setiap gigitan.
Bab 7: Berbagi Peran di Sela Tangis dan Tawa
Hari-hari berikutnya diwarnai dengan aktivitas produksi yang semakin padat, yang berpusat di dapur rumah tangga kami yang sederhana. Di sela-sela aroma mentega yang dipanggang dan deru oven gas, benak saya sebagai seorang perempuan terus berputar. Saya terus memikirkan cetak biru masa depan: bagaimana cara agar bisnis kecil ini dapat tumbuh besar, dikenal luas di seluruh wilayah Yogyakarta, dan yang terpenting, mampu membawa manfaat nyata berupa lapangan pekerjaan bagi banyak orang.
Namun, visi bisnis yang megah itu harus dijalankan secara simultan dengan tanggung jawab penuh saya di ranah domestik. Saya adalah seorang istri yang harus mengurus rumah, seorang ibu dari putra pertama saya yang kala itu baru menginjak usia dua tahun—usia di mana seorang anak membutuhkan perhatian penuh dan pengawasan yang konstan. Secara puitis, pertumbuhan bisnis ini memang berjalan seiring dengan tumbuh kembang anak saya. KUNAKENIS lahir tepat tiga bulan setelah saya melewati proses persalinan anak pertama kami. Bisnis ini adalah anak kedua saya dalam bentuk yang lain.
Di saat yang bersamaan, langit kehidupan saya digayuti awan mendung yang sangat berat. Saya harus mendedikasikan waktu, pikiran, dan sisa energi fisik saya untuk merawat Ibu kandung tercinta yang sedang berjuang melawan kanker paru-paru stadium 4. Menyeimbangkan peran sebagai produsen kue yang harus selalu tersenyum di depan pelanggan, menjadi ibu yang sabar bagi balita, dan menjadi anak yang tegar di samping tempat tidur rumah sakit ibu yang sedang sekarat—jelas bukan sebuah perkara mudah. Ada banyak malam di mana air mata saya menetes ke atas karung tepung di dapur saat semua orang sudah terlelap. Namun, komitmen pada keluarga dan kekuatan mental yang dianugerahkan Tuhan membuat saya mampu melaluinya tanpa pernah berpikir untuk menyerah.
Bab 8: Puncak Badai: Pandemi, Kehilangan, dan Duka Terdalam (2020-2021)
Memasuki tahun 2020, sebuah kejutan manis hadir di tengah kepenatan hidup. Tuhan kembali mempercayakan amanah kehamilan anak kedua kepada saya. Rasa bahagia yang membuncah sekaligus secercah kekhawatiran bercampur menjadi satu di dalam dada, mengingat putra pertama saya masih sangat kecil dan membutuhkan gendongan. Namun, sebagai seorang ibu, saya memilih menyambut kehadiran janin ini dengan sukacita dan harapan baru.
Momentum kehamilan ini sayangnya berjalan beriringan dengan meletusnya pandemi global Covid-19. Dunia lumpuh, aktivitas sosial dilarang, dan ekonomi berguncang. KUNAKENIS pun tidak luput dari dampak sistemik ini. Penurunan volume pesanan terjadi secara drastis akibat pembatasan aktivitas sosial dan ditiadakannya acara-acara hajatan kemasyarakatan. Di tengah penurunan omzet yang cukup tajam tersebut, saya mencoba melatih hati untuk selalu berprasangka baik kepada takdir. Saya menghibur diri dengan berpikir bahwa momen perlambatan ekonomi ini adalah cara semesta meminta saya untuk sedikit menurunkan gigi, memperlambat ritme kerja, dan beristirahat demi menjaga kesehatan janin di dalam kandungan.
Namun, manusia hanya bisa berencana, dan Tuhan adalah pemegang kendali mutlak atas alur cerita. Sebuah ujian paling ekstrim dan terberat sepanjang hidup saya datang menghantam pada tanggal 2 Januari 2021.
Saat itu, usia kehamilan saya sudah menginjak sembilan bulan—hanya terpaut dua minggu dari Hari Perkiraan Lahir (HPL) yang telah kami persiapkan dengan matang. Secara mendadak, terjadi komplikasi medis yang fatal: solusio plasenta (plasenta terlepas di dalam rahim sebelum waktunya) yang menutupi jalan lahir. Dalam hitungan jam yang mencekam, dokter menyatakan bahwa putra di dalam kandungan saya tidak dapat diselamatkan. Ia telah berpulang sebelum sempat menghirup udara dunia.
Dunia saya runtuh seketika. Pondasi mental saya hancur berkeping-keping. Saya harus melewati masa nifas yang menyakitkan pasca-operasi sesar darurat dengan tangan yang kosong—tanpa ada tangisan bayi di pelukan, tanpa ada tubuh mungil yang bisa saya susui. Ia terlahir sebagai seorang bayi laki-laki yang sangat tampan, dengan garis wajah yang sangat mirip dengan kakaknya. Kehilangan ini adalah sebuah lubang hitam kedukan yang begitu dalam, yang menguji batas paling akhir keteguhan saya sebagai seorang manusia dan seorang ibu.
Bab 9: Pelarian Profesional dan Kehilangan Kedua
Kehilangan yang begitu mendalam sempat membawa saya pada fase depresi dan kedukaan yang berat (grief). Kamar bayi yang kosong menjadi pemicu trauma visual yang konstan, yang perlahan mulai memicu ketegangan emosional di tengah keluarga kami. Saya sadar, jika saya terus berdiam diri di dalam rumah dan meratapi nasib, kesehatan mental saya akan rusak permanen dan itu akan menghancurkan masa depan anak pertama saya yang masih hidup.
Menyadari kondisi psikologis yang membutuhkan pemulihan (healing) segera melalui pengalihan fokus aktivitas, saya mengambil keputusan taktis yang cukup berani: saya memilih kembali ke dunia profesional. Saya melamar pekerjaan dan berhasil diterima di sebuah perusahaan swasta. Langkah ini dibarengi dengan keputusan merekrut pengasuh anak (babysitter) yang terpercaya guna memastikan putra pertama tetap mendapatkan pengawasan, nutrisi, dan perawatan yang optimal selama saya bekerja di kantor.
Keputusan kembali bekerja ini ternyata membawa dampak positif yang sangat signifikan bagi pemulihan jiwa saya. Rutinitas kantor, interaksi dengan rekan kerja baru, dan target-target pekerjaan berhasil memaksa otak saya untuk keluar dari pusaran duka. Hari-hari saya kembali berjalan dengan penuh semangat, produktivitas, dan keceriaan yang sempat hilang.
Menariknya, di tengah kesibukan yang padat sebagai seorang karyawan kantoran, saya menolak untuk membunuh KUNAKENIS. Bisnis ini terlalu berharga untuk dibiarkan mati. Memanfaatkan sistem kerja hybrid (kombinasi Work From Office dan Work From Home) yang berlaku selama era pandemi, saya melakukan restrukturisasi peran. Saya menggeser posisi saya dari yang semula eksekutor dapur menjadi seorang Manajer Operasional.
Seluruh pesanan yang masuk melalui akun digital—mulai dari Bolu Sarang Semut yang legendaris, Prol Tape, hingga aneka kue kering—sepenuhnya saya delegasikan pengerjaannya kepada karyawan terlatih di bawah pengawasan ketat saya. Pada fase ini, manajemen waktu saya berjalan dengan sangat efektif dan presisi: tugas profesional kantor terselesaikan dengan indikator kinerja yang baik, dan di sisi lain, roda bisnis KUNAKENIS pun tetap berputar menghasilkan arus kas yang sehat.
Namun, ketangguhan mental saya kembali diuji di titik nadir pada bulan Juli 2021. Di tengah puncak gelombang kedua pandemi Covid-19 yang mencekam, Ibu kandung tercinta—yang telah lama berjuang melawan kankernya—akhirnya berpulang ke Rahmatullah. Beliau menghembuskan napas terakhirnya setelah sempat mengalami penurunan kondisi fisik yang drastis di tengah situasi darurat keterbatasan fasilitas ruang ICU rumah sakit saat itu.
Kehilangan beruntun dalam rentang waktu enam bulan—kehilangan anak dan kehilangan ibu kandung—adalah sebuah pukulan telak yang meremukkan hati. Namun, kesadaran mendalam untuk menjaga stabilitas psikologis anak pertama yang sedang tumbuh, serta kewajiban moral untuk menguatkan Bapak kandung saya yang baru saja kehilangan pasangan hidupnya, menjadi motor penggerak bagi saya. Saya dipaksa oleh keadaan untuk segera menyeka air mata, berdiri tegak, dan bangkit kembali dari keterpurukan. Saya tidak boleh kalah oleh keadaan.
Bab 10: Persimpangan Karir dan Isyarat dari Sang Buah Hati
Seiring berjalannya waktu, badai pandemi global mulai mereda. Dunia perlahan kembali membuka pintunya, dan perusahaan tempat saya bekerja mulai menerapkan kebijakan Work From Office (WFO) secara penuh 100%. Perubahan regulasi kerja ini otomatis membawa saya pada sebuah persimpangan karir yang sangat krusial dan dilematis. Saya dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama menuntut komitmen penuh: fokus membesarkan bisnis mandiri KUNAKENIS atau melanjutkan karir sebagai karyawan profesional dengan jaminan pendapatan bulanan yang stabil.
Dengan mempertimbangkan berbagai faktor secara matang—terutama kapasitas energi fisik diri dan prioritas stabilitas domestik keluarga saat itu—saya mengambil keputusan untuk memilih jalur karir sebagai karyawan profesional. Namun, agar keberadaan brand KUNAKENIS tidak lenyap dari ingatan pasar dan kepuasan pelanggan setia tetap terjaga, saya melakukan langkah transfer lisensi internal. Pesanan Bolu Sarang Semut yang masuk secara resmi saya delegasikan pengelolaannya kepada adik ipar yang telah menguasai standar resep dan teknik pembuatan kami secara presisi. Sementara untuk lini produk Prol Tape dan varian kue kering lainnya, dengan berat hati terpaksa kami batasi produksinya demi menjaga fokus dan kualitas mutu produk agar tidak menurun.
Pasca-keputusan tersebut diambil, hari-hari saya sepenuhnya tersita sebagai seorang pekerja komuter. Setiap hari, saya harus menempuh perjalanan harian (commute) yang cukup panjang dan melelahkan: membelah jalanan dari rumah kami di Kabupaten Kulon Progo menuju area Babarsari, Sleman, Yogyakarta. Mobilitas tinggi yang menghabiskan waktu 1 jam untuk perjalanan pulang pergi di atas aspal ini perlahan mulai menguras energi fisik saya secara masif dan mereduksi waktu kebersamaan dengan keluarga secara drastis.
Dampak negatif terbesar dari ritme kerja yang melelahkan ini akhirnya dirasakan oleh putra pertama saya. Kehilangan kehadiran sosok ibu di rumah secara mendadak membuatnya mengalami guncangan emosional. Ia mulai sering mengalami penurunan kesehatan secara fisik dan menunjukkan perubahan perilaku yang drastis—sebuah bentuk protes bisu atas keterbatasan kehadiran saya di sisinya. Intensitas kunjungan ke rumah sakit yang meningkat, bahkan hingga beberapa kali harus menjalani tindakan opname di ruang perawatan, menjadi sebuah alarm keras (wake-up call) bagi saya untuk duduk kembali dan mengevaluasi total prioritas hidup saya.
“Uang bisa dicari, pekerjaan bisa diganti, tetapi masa tumbuh kembang seorang anak tidak akan pernah bisa diputar ulang.”
Bab 11: Keputusan Resign dan Kalimat “I’m Back” (2023)
Memasuki awal tahun 2023, dengan kemantapan hati dan pertimbangan yang matang demi masa depan serta kesejahteraan psikologis anak, saya mengambil sebuah keputusan besar yang matang: saya resmi mengundurkan diri (resign) dari posisi saya di perusahaan swasta tersebut dan memilih kembali fokus penuh di rumah.
Momentum kepulangan saya ke rumah ini sekaligus menjadi titik awal bagi saya untuk meniupkan kembali ruh kehidupan ke dalam tubuh KUNAKENIS. Melalui sebuah pernyataan singkat yang tegas di media sosial: “I’m Back!”, saya secara resmi mengumumkan kelahiran kembali brand ini di pasar kuliner Yogyakarta.
Saya mulai membangun kembali jejaring bisnis yang sempat tertidur: mengoptimalkan kembali kanal pemasaran digital lewat WhatsApp Business dan Instagram, serta menjalin kembali komunikasi personal yang hangat dengan para pelanggan setia terdahulu. Menariknya, langkah comeback kali ini justru membawa pasokan energi kreatif dan visi bisnis yang jauh lebih masif dan matang daripada saat pertama kali saya merintis usaha di tahun 2018. Didorong oleh doa yang konstan di sepertiga malam dan semangat independensi finansial demi menjamin masa depan buah hati, saya berkomitmen penuh untuk membawa brand KUNAKENIS naik kelas ke level yang lebih tinggi dan terstruktur.
Bab 12: Merapikan Fondasi Hukum: Masuk ke Ekosistem Pemerintah
Langkah baru yang lebih taktis dan strategis segera saya ayunkan. Terinspirasi dari informasi mengenai pusat layanan regulasi di Mal Pelayanan Publik (MPP) Kulon Progo, saya mengambil langkah proaktif. Saya mendatangi kantor dinas terkait dan mendaftarkan usaha kami. Langkah ini membuahkan hasil positif: KUNAKENIS resmi diterima sebagai UMKM binaan di bawah naungan Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Kulon Progo.
Sejak bergabung menjadi UMKM binaan tersebut, KUNAKENIS mulai membenahi aspek legalitas usaha secara bertahap, serius, dan menyeluruh. Kami sadar bahwa legalitas adalah paspor bagi sebuah produk untuk bisa menembus pasar ritel modern dan instansi besar. Kami menyelesaikan pengurusan kepemilikan:
- Nomor Induk Berusaha (NIB) sebagai identitas hukum usaha primer.
- Sertifikasi P-IRT (Pangan Industri Rumah Tangga) dari Dinas Kesehatan untuk menjamin keamanan pangan konsumen.
- Sertifikasi Halal dari MUI/BPJPH untuk memberikan rasa aman dan kepastian hukum bagi mayoritas konsumen di Indonesia.
Tidak hanya berhenti pada pengumpulan dokumen legalitas di atas kertas, saya juga aktif melibatkan diri secara fisik dan pikiran dalam berbagai program Bimbingan Teknis (Bimtek) intensif yang diselenggarakan oleh Dinas Koperasi serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Saya juga aktif berpartisipasi dalam pameran-pameran resmi berskala regional untuk memperluas jejaring bisnis (networking) dengan sesama pelaku usaha dan calon investor. Penguatan fundamental hukum dan relasi birokrasi ini resmi menjadi titik balik (turning point) yang transformatif bagi pertumbuhan profesional KUNAKENIS ke depan. Kami bukan lagi sekadar dapur rumahan; kami adalah sebuah entitas bisnis yang patuh hukum.
Bab 13: Kelahiran Anak Ketiga dan Panggung Penjualan Langsung (2024-2025)
Memasuki awal tahun 2024, Tuhan kembali memberikan sebuah amanah yang luar biasa indah: sebuah kehamilan anak ketiga. Belajar dari pengalaman berharga yang menyakitkan di masa lalu, serta menyadari kondisi operasional bisnis yang saat itu masih saya kelola secara mandiri sebagai usaha perorangan (sole proprietorship), saya mengambil langkah preventif yang sangat ketat. Saya membatasi seluruh aktivitas fisik di luar rumah, mendelegasikan pemasaran luar jaringan, dan mengalihkan fokus sepenuhnya pada menjaga ritme produksi di dalam dapur sembari memprioritaskan waktu istirahat yang cukup demi menjaga kesehatan janin.
Pada bulan November 2024, putra ketiga kami lahir ke dunia dengan selamat, sehat, dan lancar. Demi memberikan fokus total pada fase pemulihan fisik pasca-persalinan operasi serta memastikan tumbuh kembang bayi mendapatkan ASI eksklusif yang optimal, saya mengambil kebijakan strategis untuk menghentikan total seluruh aktivitas produksi KUNAKENIS sementara waktu (hiatus).
Dapur produksi KUNAKENIS kembali kami aktifkan bertepatan dengan momentum Ramadhan 2025, di saat putra ketiga kami telah menginjak usia empat bulan dan kondisi fisik saya sudah kembali prima. Mengingat tingginya potensi pasar musiman lebaran, saya memutuskan mengambil peluang pesanan tersebut namun dengan menerapkan manajemen risiko (risk management) yang jauh lebih baik: saya merekrut satu staf produksi tetap, yang merupakan kakak kandung saya sendiri—sebuah pilihan rekrutmen berbasis kepercayaan tinggi guna menjaga kerahasiaan resep dan konsistensi rasa.
Aktivasi kembali ini disambut dengan sangat antusias oleh pasar lokal yang merindukan produk kami. Pada bulan Oktober 2025, KUNAKENIS memutuskan memperluas strategi penjualan dengan terjun langsung ke konsumen (Direct-to-Consumer/D2C) melalui peluncuran menu baru yang sedang menjadi tren: Bolu Kukus Ketan Hitam Keju Lumer. sebuah kue dengan kelembutan tepung ketan hitam asli yang dipadukan dengan gurihnya keju yang meleleh.
Kami mengambil posisi secara agresif di dua titik strategis yang memiliki arus massa tinggi di akhir pekan:
- Area Car Free Day (CFD) Alun-Alun Wates setiap Minggu pagi (posisi di sisi utara, tepat di depan Rumah Dinas Bupati Kulon Progo).
- Kawasan Jembatan Pandansimo setiap Sabtu dan Minggu sore.
Seiring dengan meningkatnya antusiasme pembeli di lapangan, kami melakukan diversifikasi menu lapangan dengan menghadirkan varian Bolu Jadul Potong (Slice Cake) guna melengkapi portofolio produk dan memberikan alternatif pilihan bagi konsumen yang menginginkan porsi personal yang praktis dinikmati di tempat.
Namun, hukum pasar kembali berbicara. Seiring berjalannya waktu, dinamika tren pasar di kawasan Jembatan Pandansimo mulai mengalami penurunan kunjungan pasca-fase viralnya mereda di media sosial. Berdasarkan analisis biaya operasional (operational cost analysis) yang saya lakukan secara ketat, jarak tempuh dari rumah produksi menuju lokasi Jembatan Pandansimo memakan waktu sekitar 40 menit perjalanan. Hal ini memicu tingginya biaya logistik dan transportasi yang tidak sebanding dengan omzet harian di lokasi tersebut.
Guna mencegah terjadinya defisit finansial akibat subsidi silang dari pendapatan operasional titik lain, saya mengambil keputusan strategis yang tegas: menghentikan total seluruh aktivitas penjualan di Jembatan Pandansimo dan memusatkan energi operasional kami pada kanal penjualan yang terbukti lebih menguntungkan dan efisien.
Pada periode Oktober 2025 hingga Februari 2026, KUNAKENIS menerapkan manajemen waktu operasional yang lebih terstruktur dan seimbang. Kami membagi fokus bisnis menjadi dua lini utama: hari Senin hingga Sabtu didedikasikan penuh untuk pemenuhan volume produksi pesanan acara-acara besar (pernikahan, kenduri, tasyakuran), sementara hari Minggu dikhususkan sepenuhnya untuk aktivitas penjualan langsung (direct selling) di CFD Alun-Alun Wates.
Dinamika musiman kembali berlanjut saat memasuki bulan Ramadhan 2026. Seiring dengan diliburkannya aktivitas CFD Alun-Alun Wates oleh pemerintah daerah, kami tidak kehabisan akal. Kami mengeksplorasi kanal pasar musiman baru di Pasar Ramadhan Kauman, Nanggulan, setiap sore menjelang waktu berbuka puasa. Langkah taktis ini kami jalankan secara konsisten selama 10 hari pertama Ramadhan, sebelum akhirnya pada hari ke-11 kami mengambil keputusan besar untuk menarik diri dari pasar sore tersebut dan mengalihkan seluruh kapasitas produksi dapur secara penuh guna memenuhi lonjakan permintaan kue kering (cookies) menjelang Idul fitri yang permintaannya naik berlipat ganda.
Langkah evaluasi kritis ini juga akhirnya kami terapkan pada lini produk di Alun-Alun Wates. Sadar bahwa produk yang berbasis tren (viral product) memiliki siklus hidup (product life cycle) yang terbatas dan kini mulai memasuki fase jenuh (saturation phase), KUNAKENIS memilih untuk tidak bertahan pada zona nyaman. Saat ini, fokus strategis jangka pendek kami diarahkan pada riset pasar mendalam dan perencanaan matang untuk mengidentifikasi lokasi baru yang potensial, memiliki trafik pengunjung yang tinggi, serta relevan bagi pengembangan jangka panjang citra merek premium KUNAKENIS.
Bab 14: Digitalisasi UMKM dan Keajaiban SEO Lokal
Perkembangan tata kelola manajerial KUNAKENIS semakin diperkuat ketika saya mendapatkan kesempatan berharga untuk mengikuti Bimbingan Teknis “UMKM Naik Kelas Level 1” yang difasilitasi oleh tim mentor bisnis profesional dari Satoeasa—di antaranya Mas Imam, Mas Uun, Mas Anas, dan Mas Agung. Melalui program akselerasi bisnis yang intensif ini, mata saya dibukakan untuk mulai mengimplementasikan ilmu manajemen modern dan pemasaran digital secara konkret pada sistem operasional bisnis harian.
Langkah digitalisasi pertama yang saya terapkan adalah melakukan migrasi total dari akun WhatsApp personal menuju WhatsApp Business. Melalui pemanfaatan fitur profesional ini, kami menyusun profil perusahaan secara formal, mengatur pesan otomatis (automated message), serta membangun katalog produk digital yang informatif dan estetis untuk memudahkan akses bagi para pelanggan saat melakukan pemesanan.
Langkah strategis kedua difokuskan pada optimasi Google Bisnis Profil (Google My Business) untuk memperkuat visibilitas merek di ranah pencarian lokal. Hasil dari optimasi SEO Lokal (Search Engine Optimization) ini terbukti sangat instan dan efektif. Saat ini, ketika ada calon pelanggan baru di area Yogyakarta mengetikkan kata kunci “Kue sarang semut di Kulon Progo” pada kolom pencarian Google, algoritma secara konsisten akan menampilkan brand KUNAKENIS di peringkat teratas (top three ranking) hasil pencarian, lengkap dengan ulasan bintang lima dari para pelanggan.
Keberhasilan strategi visibilitas digital ini langsung membuahkan hasil nyata yang mengejutkan. Pada Desember 2025, sesaat setelah saya pulang dari aktivitas penjualan fisik di CFD Alun-Alun Wates, ponsel saya bergetar hebat. Sebuah pesanan besar masuk: 65 boks Bolu Sarang Semut sekaligus untuk sebuah acara instansi. Yang menarik, pesanan ini datang dari seorang pelanggan baru yang sama sekali tidak mengenal saya sebelumnya. Ia menemukan keberadaan, alamat dapur, dan reputasi positif KUNAKENIS murni melalui Google Bisnis Profil kami. Momen ini menjadi validasi konkret bagi saya bahwa digitalisasi UMKM bukan sekadar tren keren-kerenan, melainkan sebuah kunci pembuka gerbang pasar baru yang tanpa batas.
Bab 15: Naik Kelas ke Tahap Inkubasi Bisnis (2026)
Di tengah upaya menjaga konsistensi mutu produksi harian dan kelancaran kanal direct selling, radar bisnis saya menangkap sebuah peluang strategis melalui informasi program Inkubasi Bisnis yang beredar di Instagram. Program ini merupakan sebuah wadah pendampingan intensif dari pemerintah yang dirancang khusus dengan kurikulum ketat untuk mengakselerasi pelaku UMKM terpilih agar mampu benar-benar “naik kelas” secara struktural. Tanpa ada keraguan, saya mendaftarkan KUNAKENIS. Setelah melewati serangkaian seleksi administrasi dan wawancara produk, kami dinyatakan lolos sebagai salah satu peserta resmi.
Program Inkubasi Bisnis ini menerapkan sistem kompetisi yang sangat ketat dengan sistem gugur (eliminasi) dalam tiga tahapan kurasi yang menegangkan: dimulai dari 75 UMKM pilihan di Tahap 1, disaring menjadi 50 UMKM di Tahap 2, hingga nantinya hanya menyisakan 25 UMKM terbaik di Tahap 3.
Pada Tahap 1, kami langsung dibombardir dengan kelas tatap muka (offline) intensif selama tiga hari berturut-turut yang membedah tuntas fundamental manajerial sebuah bisnis. Mengingat krusialnya materi ini bagi masa depan keberlanjutan KUNAKENIS, saya mencurahkan 100% fokus pikiran saya untuk mengeksplorasi, merombak, dan mengimplementasikan seluruh tugas instruksional dari para mentor ke dalam struktur internal usaha kami. Pembenahan itu meliputi lima pilar utama:
1. Penyusunan Rencana Bisnis (Business Plan)
Saya mulai menyusun dokumen rencana bisnis komprehensif yang mencakup identitas dan deskripsi usaha, analisis kondisi pasar terkini (market analysis), formulasi strategi pemasaran, perencanaan kapasitas operasional, proyeksi keuangan, hingga cetak biru pengembangan jangka panjang. Proses ini menjadi momen refleksi yang membuka mata saya terhadap berbagai celah manajemen masa lalu. Berbekal rencana bisnis yang baru ini, arah strategis KUNAKENIS kini menjadi jauh lebih terukur.
Saya langsung mengeksekusi strategi promosi luar jaringan (offline) melalui metode canvassing aktif serta membuka kemitraan dengan sistem agen pembagi (reseller) khusus untuk menyuplai kebutuhan massal seperti hantaran hajatan dan tasyakuran. Langkah ini diperkuat dengan penetrasi pemasaran menggunakan media brosur fisik premium yang didistribusikan secara tertarget kepada simpul-simpul potensial penentu keputusan, seperti praktik bidan mandiri, penyedia jasa dekorasi/tenda (tratak), Wedding Organizer (WO), Event Organizer (EO), hingga Makeup Artist (MUA).
2. Perancangan Prosedur Operasional Standar (SOP)
Sadar bahwa saat ini seluruh aktivitas operasional dapur utama dan urusan domestik rumah tangga masih berpusat pada diri saya sendiri, penyusunan SOP menjadi prioritas yang mendesak. Melalui standarisasi alur kerja baku yang tertulis—mulai dari standar gramasi bahan baku, suhu pemanggangan oven, hingga tata cara pengemasan stiker kemasan agar simetris—saya sedang mempersiapkan fondasi kokoh agar manajemen KUNAKENIS dapat segera berjalan secara otomatis (autopilot). Targetnya, di masa depan ketika terjadi penambahan staf, saya dapat sepenuhnya berfokus pada fungsi kepemimpinan makro dan pengembangan ekspansi bisnis.
3. Restrukturisasi HPP dan Titik Impas (Break-Even Point / BEP)
Melalui perhitungan ulang akuntansi biaya yang presisi, saya menemukan sebuah fakta mengejutkan: adanya kalkulasi Harga Pokok Penjualan (HPP) yang kurang akurat di masa lalu karena mengabaikan komponen biaya penyusutan alat dan biaya tenaga kerja sendiri. Sebagai langkah korektif demi menjaga kesehatan arus kas (cash flow) dan keberlanjutan hidup perusahaan, saya mengambil kebijakan strategis untuk melakukan penyesuaian (kenaikan) harga jual produk KUNAKENIS secara rasional.
Selain itu, saya juga menyisipkan komponen biaya insentif keuntungan untuk mitra reseller ke dalam struktur HPP baru tersebut, sehingga stabilitas harga di tingkat konsumen akhir tetap terjaga dalam jangka panjang tanpa perlu melakukan perubahan harga yang berulang-ulang yang bisa membingungkan pasar.
4. Pembenahan Laporan Keuangan (Financial Reporting)
Pembuatan laporan keuangan berkala secara disiplin mengubah total persepsi saya terhadap keuntungan usaha. Melalui pencatatan arus masuk dan keluar yang rapi, margin keuntungan bersih (net profit) KUNAKENIS kini dapat teridentifikasi secara transparan setiap bulannya. Sebagai wujud profesionalisme pengelolaan keuangan, saya juga mulai mengimplementasikan sistem penggajian formal untuk diri saya sendiri sebagai pengelola usaha, memisahkan secara tegas dan mutlak antara dompet keuangan pribadi rumah tangga dan modal kerja bisnis.
5. Optimalisasi Pemasaran Digital & Konten Kreatif
Di samping perbaikan aspek internal manajemen, saya juga memanfaatkan media sosial secara lebih serius, estetik, dan terstruktur. Melalui produksi dan publikasi konten video pendek (Reels dan TikTok) secara konsisten yang menceritakan proses di balik layar dapur, KUNAKENIS berhasil memperluas jangkauan pasar (brand awareness) secara organik, membangun interaksi yang lebih intim dan emosional dengan audiens, serta memantapkan posisinya sebagai produsen kue premium pilihan di mata masyarakat luas.
Bab 16: Menatap Masa Depan: Bersiap untuk Lompatan Besar
Seluruh dedikasi, malam-malam tanpa tidur untuk mengerjakan tugas inkubasi, dan kerja keras yang melelahkan itu akhirnya membuahkan hasil yang gemilang: KUNAKENIS resmi dinyatakan lolos untuk melangkah ke Tahap 2.
Namun, kegembiraan itu segera disusul dengan kesadaran bahwa fase ini adalah puncak dari proses seleksi yang sangat ketat. Intensitas dan kompleksitas tugas manajerial yang dibebankan kepada kami jauh lebih tinggi dan menguras energi dibandingkan tahap sebelumnya.
Tingginya beban akademis program inkubasi yang berujung pada berkurangnya alokasi waktu istirahat, perlahan mulai memberikan sinyal kelelahan pada kondisi fisik saya. Menghadapi situasi kritis ini, saya harus mengambil keputusan taktis yang bijaksana demi menjaga keseimbangan kesehatan: saya memutuskan untuk menghentikan sementara waktu aktivitas penjualan langsung hari Minggu di CFD Alun-Alun Wates.
Pilihan untuk tidak terburu-buru menambah karyawan baru pada fase transisi ini didasarkan pada pertimbangan manajemen yang matang: seluruh instrumen SOP kami masih dalam tahap penyempurnaan akhir, dan sebagai pengelola tunggal, saya belum memiliki alokasi waktu yang ideal untuk melakukan pelatihan (training) karyawan baru agar sesuai dengan standar mutu KUNAKENIS. Seluruh energi, waktu, dan pikiran saya saat itu telah terserap sepenuhnya untuk menyelesaikan tugas-tugas kurasi inkubasi serta mengawal pemenuhan volume produksi pesanan rutin yang sudah terjadwal jauh-jauh hari di buku pesanan.
Rangkaian tugas pada Tahap 2 ini menuntut perencanaan yang sangat komprehensif dan detail. Kami diwajibkan menyusun rencana aksi komersial (Action Plan) untuk satu tahun ke depan, merancang ide dan kalender konten media sosial (content plan) yang matang, membuat SOP turunan yang lebih detail di setiap lini kerja, menyempurnaan cetak biru rencana bisnis (business plan), mengembangkan situs web (website) resmi perusahaan, hingga memproduksi video konten tiga kali seminggu secara berkala serta pembuatan video profil bisnis (business profile video) yang profesional.
Atas dasar pertimbangan strategis itulah, saat ini saya memilih untuk memusatkan seluruh fokus dan sumber daya yang ada pada perbaikan, penataan, dan penguatan sistem internal KUNAKENIS terlebih dahulu. Saya sedang membangun sebuah fondasi beton yang kuat di bawah tanah sebelum mendirikan bangunan yang tinggi.
Setelah seluruh rangkaian program inkubasi bisnis ini selesai pada bulan Agustus nanti, KUNAKENIS akan berdiri dengan postur yang sepenuhnya siap untuk melangkah ke fase eksekusi operasional secara masif, agresif, dan terstruktur. Kami akan bergerak maju secara profesional, melangkah pasti berlandaskan seluruh cetak biru, rencana aksi, dan legalitas matang yang telah kami tenun dengan air mata, cinta, dan kerja keras yang tak pernah padam.
Menjadi besar adalah sebuah impian, namun menjadi bermanfaat adalah sebuah kewajiban. Mohon doanya agar KUNAKENIS tumbuh meluas, sehingga niat mulia untuk memberdayakan sesama dan memberi manfaat nyata bagi lingkungan sekitar dapat segera terwujud
KUNAKENIS — Kue Enak dan Manis.
- because every slice has a story of resilience.*
